Kisah Kehidupan Nabi Muhammad yang sangat Inspiratif untuk kita teladani

kisah nabi muhammad

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad yang sangat Inspiratif untuk kita teladanikisah nabi muhammad

 

Kisah kehidupan nabi Muhammad adalah kisah teladan yang berlaku sepanjang jaman.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan nabi penutup dari para nabi dan rasul. Beliau lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, 20 April 571 M.

Di mana tahun itu disebut dengan tahun gajah. Mengapa disebut tahun gajah? Karena pada saat kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam terjadi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan habasyi yang mengendarai gajah. Mereka datang untuk menyerang Memkah dan merobohkan Ka’bah (Baitullah).

Pasukan gajah ini dipimpin oleh seorang Panglima bernama Abrahah. Pasukan gajah porak-poranda oleh kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah menghancurkan pasukan gajah yang gagah perkasa dengan menurunkan burung Ababil.

Di mana burung ababil ini menghujani mereka dengan batu-batu kecil dari neraka. Akhirnya mereka semua musnah dan binasa tanpa sisa.

Bersamaan dengan kejadian besar ini, di kota Mekkah lahir seseorang bayi yang luar biasa yang kelak akan menjadi pemimpin besar dunia. Seorang laki-laki pilihan yang menyandang gelar nabi dan rasul Allah terakhir. Beliau ini yang bernama Ahmad atau Muhammad yang mempunyai arti terpuji.

Beliau lahir dari keluarga yang miskin harta tetapi kaya akan akhlak, Budi dan perilaku. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdul Muthalib Bin Hasyim bin Abdi Manaf bin qushay dari kabilah suku Quraisy. Ibunda beliau adalah Aminah binti Wahab yang mana juga keturunan dari Quraisy.

Sejak kecil beliau adalah seorang yatim piatu. Ayahnya wafat 2 bulan sebelum beliau lahir hingga wafat. Ketika beliau berusia 6 tahun, selanjutnya beliau diasuh oleh kakeknya yang menjadi salah satu Pembesar Quraisy. Ketika berusia 9 tahun kakeknya wafat. Selanjutnya beliau mulai diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib.

Ketika masih bayi beliau disusui oleh ibunya sendiri. Kemudian beliau di susukan kepada ibu susu yang di upah bernama Tsuaibah. Seorang wanita solehah dari suku Aslam.

Selanjutnya beliau disusukan kepada Halimah As-Sa’diyah dari suku Saad hingga berusia 4 tahun. Ketika berusia 5 tahun  Muhammad kecil diantar ke Mekah kembali kepada ibunya Siti Aminah.

1 tahun kemudian ketika usia 6 tahun beliau dibawa oleh ibundanya ke Madinah bersama Ummu Aiman. Semua dalam rangka untuk berziarah ke makam Ayahandanya.

Bukan hanya berziarah, beliau juga diperkenalkan kepada keluarga dari nenek beliau dari bani Nazar. Di Madinah kira-kira mereka tinggal selama 1 bulan. Setelah selesai kemudian melanjutkan perjalanan ke Mekah.

Dalam perjalanan pulang ini di suatu tempat yang bernama Abwa’, tiba-tiba ibunya  Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia di sana. Kemudian ibunda beliau dimakamkan di tempat itu. Abwa’ adalah nama sebuah desa yang terletak antara kota Madinah dan Juhfah. kira-kira sejauh 23 mil di sebelah selatan Kota Madinah.

Bersedih hati beliau sejak kecil. Tidak mengenal sang ayah. Bahkan beliau harus berpisah dengan ibundanya.  Setelah selesai pemakaman ibunda, Nabi Muhammad segera meninggalkan kampung Abwa’ dan kembali ke Mekah. Selanjutnya beliau tinggal bersama dengan kakeknya yaitu Abdul Muthalib.

Di kota Mekkah ini beliau Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam diasuh dan dibesarkan oleh kakek beliau penuh dengan cinta kasih sayang. Saat itu kakek beliau Abdul Muthalib kurang lebih berusia 80 tahun.

Di dalam pengasuhan kakeknya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kecil merasa bahagia. Mulai bisa melupakan kesedihan dan kesusahan karena ditinggal wafat oleh ayah bundanya.

Tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena berselang 2 tahun Kakek sang Nabi meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Sesuai dengan wasiat dari kakek beliau, selanjutnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasallam diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib.

Abu Thalib mendidik dan membesarkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan cinta kasih, ketulusan dan kasih sayang. Kasih sayang yang dicurahkan oleh paman beliau kepada keponakannya ini tidak berkurang dari apa yang diberikan kepada anaknya sendiri.

Dalam pengasuhan kakek dan Paman beliau, Nabi Muhammad selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang amat terpuji. Selalu membantu dan meringankan pekerjaan mereka.

 

Masa kecil nabi Muhammad

masa kecil nabi muhammad

Ketika Nabi Muhammad berumur 12 tahun beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Suatu ketika paman beliau Abu Thalib membawa barang dagangan ke negeri Syam. Sebelum mencapai kota Syam, tepatnya di daerah Bushra. Bertemulah kabilah Abu Tholib ini dengan seorang pendeta Nasrani yang alim, bernama Buhaira.

Pendeta ini melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka dia memberi nasehat kepada Abu Thalib agar segera membawa keponakannya pulang ke Mekah. Sebuah kekhawatiran jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Muhammad.

Sang pendeta takut dan kuatir apabila Muhammad ditemukan oleh orang Yahudi. Di mana mereka akan menganiaya bahkan bisa membunuhnya. Selanjutnya Abu Thalib segera menyelesaikan semua urusannya dan segera kembali ke Mekah.

Sebagaimana usia anak-anak pada umumnya, Nabi Muhammad juga ikut bekerja seperti anak sebayanya. Mereka rata-rata mengembangkan dan mengembalakan kambing kambing keluarga dan kambing penduduk Mekah yang lain yang dipercayakan kepada mereka.

Di mana pekerjaan menggembala kambing ini membuahkan didikan yang amat baik pada diri Muhammad kecil. Di mana pekerjaan menggembala kambing ini memerlukan keuletan, kesabaran serta ketenangan dan keterampilan dalam bertindak.

Pada saat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam berusia 15 tahun. Terjadi peristiwa yang sangat bersejarah di Kota Mekah yaitu terjadi peperangan antara suku Quraisy dan suku Kinanah  di satu pihak serta suku Qais ‘Ailan di lain pihak.

Muhammad aktif dalam peperangan ini dengan memberikan bantuan kepada paman-pamannya dengan menyediakan keperluan peperangan.

Di mana peperangan ini terjadi di daerah Suci pada bulan suci pula yaitu pada bulan Dzulqaidah. Menurut pandangan bangsa Arab peperangan ini adalah pelanggaran terhadap kesucian. Karena telah melanggar kesucian bulan Dzulqo’dah.

Sebenarnya telah dilarang terjadinya perkelahian, peperangan dan menumpahkan darah. Oleh karenanya, peperangan ini dinamakan Harbu Fijar. Artinya perang yang memecahkan kesucian.

Muhammad bertemu dengan Siti Khodijah

Ketika sang nabi menginjak masa dewasa, beliau mulai berusaha sendiri untuk mandiri dalam kehidupannya. Karena beliau dikenal sebagai orang yang sangat jujur. Maka seorang janda kaya raya bernama Khadijah, mempercayakan kepada beliau untuk membawa barang dagangannya ke negeri Syam.

Dalam perjalanan ke Syam ini, beliau ditemani oleh seorang pembantu Khadijah yang bernama Maesaroh. Maesaroh adalah seorang laki-laki. Setelah selesai menjual belikan barang dagangannya di Syam dengan dengan membawa keuntungan besar. Mereka pun kembali pulang ke kota Mekah.

Setelah pulang dari perjalanan itu, datanglah lamaran dari Siti Khodijah kepada beliau. Selanjutnya beliau menyampaikan hal ini kepada paman beliau.

Singkat cerita, telah tercapai kesepakatan. Maka terjadilah pernikahan antara beliau dengan Khadijah. Di mana saat itu sang nabi berusia 25 tahun sedangkan Khodijah berusia 40 tahun.

Nama Muhammad tambah terkenal dan populer di kalangan penduduk Mekah, setelah beliau mampu mendamaikan kaum Quraisy dalam sengketa yang terjadi dalam proses memperbarui bentuk Ka’bah.

Awal mulanya mereka nampak bersatu dan gotong royong mengerjakan pembaruan Ka’bah ini. Namun ketika sampai pada peletakan batu Hajar Aswad ke tempat asalnya, terjadi perselisihan antar pemuka Quraisy.

Mereka masing-masing merasa berhak untuk mengembalikan batu suci itu ke tempat asalnya. Akhirnya mereka sepakat, siapa yang menjadi hakim adalah orang yang pertama kali datang.

Pada saat kritis ini, maka datanglah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau di sambut  dengan gembira dan segera disetujui oleh mereka untuk mengembalikan Hajar Aswad.

Maka debngan penuh kebijaksanaan sang nabi meminta sehelai kain. Dan kain ini Segera dibentangkan. Kemudian nabi Muhammad meletakkan Hajar Aswad di atasnya.

Selanjutnya beliau meminta kepada pemuka Quraisy masing-masing untuk memegang ujung dari kain ini dan mengangkatnya bersama sama ke dekat tempat asal mula Hajar Aswad.

Selanjutnya beliau meletakkan Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri ke tempatnya. Dengan begitu, sengketa ini telah selesai dengan damai. Semua puas dengan keputusan sang nabi. Saat terjadi peristiwa besar ini, beliau berusia 35 tahun dan digelari dengan Al Amin (orang yang dipercaya).

 

Perjalanan dakwah nabi Muhammad

Saat menginjak usia 40 tahun, beliau banyak mengerjakan tahanus daripada waktu-waktu yang beliau miliki. Di bulan Romadhon yang cukup lebih dari biasanya, beliau akan bermuhasabah dan bertahan lebih lama di dalam gua Hiro.

Pada malam 17 Ramadhan, tepatnya 6 Agustus tahun 610 Masehi. saat beliau Munajat dan bermuhasabah di gua Hiro’ datanglah Malaikat Jibril Alaihissalam. Jibril datang membawa risalah dan tulisan. Dia meminta Muhammad untuk membacanya.

Selanjutnya dia berkata kepada Muhammad “Bacalah”. Dengan terperanjat, Muhammad menjawab “Aku tidak dapat membaca”.  Malaikat jibril Alaihissalam mendekap sang Nabi sehingga nafasnya sesak lalu dilepaskan olehnya.

Kemudian Jibril memintanya membaca sekali lagi. Namun Muhammad masih tetap menjawab “Aku tidak dapat membaca”. Begitulah keadaan berulang Sampai Tiga Kali. Ahirnya Muhammad berkata “Apa yang harus aku baca”.

Kemudian JIbril memabcakan surat Al Alaq ayat 1-5. Di mana artinya adalah “Bacalah dengan nama tuhanmu yang menjadikan. yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu teramat mulia, yang mengajarkan dengan pena (tulis baca). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Al Alaq ayat 1-5)

Inilah wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melalui Malaikat Jibril. Dan inilah penubuwatan (peresmian) bahwa beliau menjadi nabi dan Rasulullah untuk seluruh manusia dan alam semesta.

Dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa selama kurang lebih dua setengah tahun setelah menerima wahyu yang pertama, Rasulullah menerima wahyu yang kedua.

Di kala menunggu kedatangan wahyu kedua ini, Rasulullah di rundung oleh perasaan cemas, khawatir. Bahkan, seolah hampir saja beliau berputus asa tetapi Allah menetapkan hati beliau dan terus bertahan untuk munajat sebagaimana biasa di Gua Hira’.

 

Tiba-tiba terdengar suara dari langit yaitu Malaikat Jibril Alaihissalam. Sang Nabi menggigil ketakutan dan segera pulang ke rumah. Kemudian beliau meminta kepada Siti Khodijah supaya menyelimutinya.

 

Dalam keadaan berselimut itu, Jibril datang lagi seraya menyampaikan wahyu Allah yang kedua Kepada beliau. Di mana Wahyu ini berbunyi:

 

“Wahai orang yang berselimut bangun dan berilah peringatan besarkanlah nama tuhanmu bersihkanlah pakaianmu jauhilah perbuatan maksiat janganlah kamu memberi karena hendak memperoleh yang lebih banyak dan tak lah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu” (Al-Muddassir ayat 1-7)

 

Dakwah secara sembunyi-sembunyi

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menerima wahyu yang kedua ini yang menjelaskan tugas tugas beliau. Selanjtunya beliau mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak keluarganya yang tinggal dalam satu rumah dan sahabat-sahabat terdekat beliau.

Seorang demi seorang satu demi satu agar mereka meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Yang mula-mula beriman kepada Allah adalah istri beliau, Khadijah. Setelah itu ,  msauk islam juga seorang anak kecil, Ali Bin Abi Thalib. Beliau mengajak Abu Bakar As Siddiq, seorang sahabat karib yang telah lama bergaul dengan beliau. Dan Abu Bakar pun segera beriman dan menerima agama Islam.

Dengan perantaraan Abu Bakar, banyak orang-orang yang memeluk agama Islam. Di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin awwam, Saad bin Abi waqqash, Abdurrahman bin Auf, Tolhah bin ubadillah, Abu  ubaidillah bin Jarrah, Arqom bin abil arqom, Fatimah binti Khattab, adik Umar bin Khattab serta suaminya Said bin Zaid, Al Adawi dan beberapa penduduk Makkah yang lain daru suku Qiraisy.

Mereka inilah  orang orang yang di beri gelar Assabiqunal Awwalauun. Artinya orang orang yang terdahulu yang pertama tama masuk Islam.

Mereka adalah orang  orang istimewa yang mendapatkan gemblengan, kemuliaan dan pelajaran tentang agama Islam oleh Rasul sendiri di tempat yang tersembunyi di rumah Al Arqam dalam kota Makkah.

BACA JUGA :   Perkembangan Anak Secara Kognitif. Memahami Hal Hal Kecil yang Jarang Di Ketahui Orangtua

 

Dakwah secara terang terangan

3 tahun lamanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Di mana beliau mengajak orang-orang untuk masuk agama Islam seorang demi seorang. Satu demi  satu secara diam-diam, sembunyi-sembunyi dari satu rumah ke rumah yang lainnya.

Kemudian setelah itu turunlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu surat Al Hijr ayat 94 sebagai berikut:

“Maka jalankanlah Apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”

Ayat ini memerintahkan kepada Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam agar menyiarkan agama Islam dengan terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi.

Maka mulailah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menyuruh kaum muslimin untuk menyembah Allah dan mengesakanNya.

Pertama kali seruan dakwah yang umum ini beliau tujukan kepada kerabat sendiri. Kemudian berlanjut kepada penduduk Mekah secara umum. Di mana mereka terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat.

Mulai dari golongan bangsawan, hartawan, dermawan hingga budak dan sahabat. Selanjutnya beliau, mengajak kepada kabilah kabilah dari berbagai daerah yang datang ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji.

 

Kisah Isro’ miraj nabi Muhammad

Pada saat nabi melakukan dakwah nabi mendapatkan banyak ujian dan cobaan yang sangat berat. Di mana ujian ini sudah ada pada puncaknya. Gangguan, hinaan, cacian dan cemoohan  selalu dialami oleh Beliau dan  para sahabat.

Maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diperintahkan oleh Allah untuk  menjalani Isra dan Mikraj dari Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina. Selanjutnya perjalanan ke langit ke-7 untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Peristiwa Isra dan Mi’raj ini terjadi pada malam 27 Rajab. Sehingga peristiwa Isra Mi’raj ini memberikan kekuatan batin kepada baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam meneruskan perjuangan menegakkan agama Allah.

Untuk apa baginda nabi Muhammad Allah perintahkan melakukan Isro’ dan Miroj?

Peristiwa Isra Mi’raj yang dijalankan oleh Nabi Muhammad adalah dalam rangka  untuk menambah kekuatan Iman di hati beliau. Di mana beliau diutus oleh Allah untuk umat manusia. Di mana pada  masa itu dikenal sebagai zaman Jahiliyah.

Dengan demikian bertambahlah kekuatan iman dan batin beliau ketika menerima cobaan, musibah, cacian serta siksaan dari kaumnya dalam rangka untuk memperjuangkan tegak dan luhurnya ajaran Allah di bumi ini.

Hikmah dari peristiwa Isra Mi’raj adalah sebagai ujian bagi seluruh kaum muslimin. Apakah mereka percaya dan beriman kepada peristiwa yang sangat menakjubkan ini.

Di mana Kejadian ini adalah kejadian luar biasa yang di luar akal pikiran manusia. Perjalanan panjang yang dalam waktu normal ditempuh ratusan kilo meter. Bahkan dalam peristiwa ini, beliau Allah mampukan menembus langit ke-7. Di mana peristiwa Isra Mi’raj ini hanya dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam waktu satu malam saja.

 

Perang yang diikuti nabi Muhammad

Sesungguhnya agama Islam adalah agama peradaban dan agama perdamaian. Islam hadir untuk memerangi kebatilan,  kemungkaran dan ketidak adilan. Islam hadir bukan untuk menguasai tapi untuk melindungi. Islam hadir bukan untuk menindas tapi untuk menebar rahmat, kasih sayang ke penjuru alam semesta.

Tetapi ketika kebenaran yang di bawa oleh baginda nabi Muhammad di lecehkan dan di cemooh oleh orang Quraisy,  maka umat Islam tidak  bisa tinggal diam. Apalagi memang mereka orang kafir Quraisy selalu berusaha memadamkan api dakwah Islam.

Maka,  mau tidak mau peperangan harus terjadi. Peperangan terjadi untuk melindungi diri, menjaga kehormatan dan martabat agama serta kaum muslimin.

secara umum para ulama beda pendapat, berapa kali peperangan yang pernah diikuti oleh baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Di antara para ulama’ ada yang mengatakan bahwa baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengikuti 27 peperangan. Ulama’ yang lain mengatakan bahwa beliua mengikuti 26 peperangan.

Di antara beberapa pendapat ini, pendapat yang  paling kuat dan rajih adalah pendapat yang di kemukakan oleh Ibnu Hisyam. Dia mengatakan bahwa baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengikuti 27 peperangan.

Dari keseluruhan peperangan yang pernah  terjadi pada masa hidup beliau, di bedakan lagi antara peperangan yang beliau ikut terlibat langsung dalam kancah perang dan perang yang mana beliau mengatur taktik dan strategi pengerahan pasukan.

Peperangan yang mana nabi mengukuti langsung hanya 9 kali perang. Pada peperangan yang  lain beliau terlibat dalam mengatur strategi perang dan pengerahan pasukan.

 

Berikut peperangan yang pernah beliau ikuti secara langsung:

Perang badar

Parang yang petama kali terjadi dan berkecamuk sangat dahsyat antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy adalah perang Badar. Di mana perang badar ini terjadi pada tahun ke 2 Hijriyah.

Perang Badar ini biasa di gelari dengan perang agung atau Gazwatul Kubro. Mungkin kamu bertanya tanya,  mengapa perang badar di sebut perang Agung?

Perang badar di sebut perang agung karena perang Badar menjadi perang yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

 

Pada perang Badar ini pasukan muslimin di bawah komando rasulullah  langsung. Sedangkan orang  Quraisy di bawah pimpinan Amru bin Hisyam Al Mahzumy  Al Quraisy. Perang Badar Di namakan perang Badar karena perang ini terjadi sekitar sebuah sumur antara kota Makkah dan Madinah.

Perang Badar adalah perang yang  sangat fenomenal dan ajaib. Betapa tidak, dalam perang Badar ini, pasukan muslimin hanya berjumlah 300 orang. Sedangkan kaum Quraisy lebih dari 1000 pasukan.

Dari sisi jumlah, tentu ini adalah perang yang sangat tidak seimbang. Pada perang ini kaum muslimin tidak ada separuh dari kaum  Quraisy. Tetapi berkat keimanan, keyakinan dan ketaqwaan kaum muslimin. Di dorong dengan semangat dari baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Setiap pasukan muslimin telah bersiap menyongsong mati sahid.

Mereka tidak takut dan kuatir saat menghadapi musuh. Mengapa ? Karena mereka yakin dengan janji Allah. Orang yang mati dalam peperangan membela agama Allah adalah syahid. Dan mereka mendapat hadiah surga.

Kaum Quraisy kehilangan pasukan terbaiknya sejumlah 70 orang termasuk panglima perangnya mati di medan pertempuran.

Sedangkan kaum muslimin kehilangan 14 syuhada.  Mereka gugur di medan juang membela dan menegakkan agama Allah.

 

Perang Uhud

Perang Uhud adalah perang ke 2 yang diikuti oleh baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Perang Uhud ini terjadi di Jabal Uhud (Gunung Uhud) pada tahun ke 3 Hijriyah.

Asal usul  perang Uhud ini adalah karena rasa malu kaum Quraisy. Di mana mereka kehilangan kehormatan pada perang Badar. Mereka ingin balas dendam dan berusaha mengembalikan kehormatan mereka yang telah hancur.

Betapa tidak, dengan jumlah 1000 orang, mereka di kalahkan oleh 300 orang muslimin yang menunggang onta. Sebagian besar hanya jalan kaki.

Orang-orang Quraisy semakin benci kepada Islam di Madinah. Ketika mereka melihat perkembangan Islam yang semakin berkembang baik. Bahkan mereka telah merencanakan pembunuhan kepada sahabat nabi yang telah banyak membunuh pasukan kafir Quraisy ketika Perang Badar.

Dalam Perang Uhud, pasukan Quraisy terdiri dari 3000 pasukan dengan 200 pasukan berkuda 150 pasukan unta yang dikendarai oleh perempuan sebagai pemberi semangat kepada pasukan yang akan bertempur.

Pasukan Quraisy di bawah pimpinan Abu Sofyan komandan perang adalah Khalid bin Walid. Di mana Khalid bin Walid adalah panglima perang yang sangat gagah berani di tanah Arab ketika itu.

Di sisi yang lain pasukan umat Islam hanya terdiri dari 1000 orang. Bahkan 300 orang diantaranya mundur tidak ikut perang. Sehingga pasukan muslimin hanya tersisa 700 orang saja.

Bisa dibayangkan 3.000 pasukan melawan 700 pasukan. Nggak masyuk akal menurut logika.

Walau begitu, perang tetap terjadi. Perang berkecamuk dengan begitu hebatnya. Di tengah-tengah peperangan, nampak pasukan Quraisy terdesak mundur dan nampak tanda-tanda kekalahan.

Mengapa demikian?

Karena pasukan muslim mengambil posisi di bukit Uhud. Mereka mengandalkan kekuatan pasukan muslim, pasukan panah. Sehingga ketika pasukan Quraisy mendesak mereka dikejar oleh panah-panah dari pasukan panah ini.

Ketika kemenangan sudah di depan mata. Pasukan muslimin mulai tidak mengindahkan larangan Rasulullah untuk tidak turun dari bukit itu. Mereka tergiur harta rampasan perang. Mereka turun dan ikut berebut harta rampasan perang.

Dalam kondisi genting seperti ini, pemimpin mereka Langsung mengambil alih bukit Uhud. Ahirnya pasukan msulimin terdesak mundur. Dalam peperangan ini, 70 orang mati sahid dari pihak muslimin. Sementara dari pihak Quraisy, mati 22 orang saja.

 

Perang Khandak

Salah satu peperangan penting yang pernah diikuti oleh baginda nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah perang Khandak. Mengapa mempelajari perang Khandak ini sangat penting?

Karena dalam perang Khandak, ini kaum muslimin hampir saja kalah. Perang ini butuh waktu beberapa minggu. Seandainya bykan karena pertolognan Allah semata, maka kaum muslim akan mengalami kekalahan telak.

Perang khandak ini juga biasa di sebut perang Ahzab. Karena dalam perang ini kaum qauraisy di bantu oleh suku suku yang ada di Madinah.  Mereka terdiri dari beberapa suku. Misalnya saja, suku  Asad, suku Salim, suku Fazarfah, suku Marra dan Bani Nadhir.

Dalam perang Khandak ini semua suku bersatu padu, bahu membahu untuk memerangi kaum muslimin Madinah. Sehingga mereka mencapai 3000 pasukan.

Perang ini juga terkenal dengan perang parit. Karena dalam perang ini kaum muslimin bertahan dengan benteng berupa parit. Ide parit ini di usulkan oleh sahabat asal persia yaitu Salman Al Farisi. Dengan benteng berupa  parit ini, pasukan Quraisy tidak mampu menembus Madinah.

Mereka hanya berputar putar saja di sisi parit tanpa bisa menyeberangi parit yang panjangnya sekitar 10 meter. Jika mereka memaksa menyeberangi parit, maka mereka akan berhadapan dengan pasukan muslimin tanpa ampun.

Mereka hanya berputar putar di sana selama hampir 2 minggu. Hingga ketika perbekalan hampir habis. Allah mengirim angin yang sangat kencang. Angin ini yang memporak porandakan kegagahan pasukan Quraisy.

Inilah beberapa perang besar yang pernah di ikuti oleh baginda nabi Muhammad  Shallallahu Alaihi Wasallam di samping beberapa perang yang lain.

 

Kisah nabi Muhammad dengan keluarga dan sahabat

Kisah sahabat Saad bin Abi waqqash, sahabat yang dijamin masuk surga

Sahabat Saad bin Abi Waqqash merupakan salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga. Mula mula Saad didatangi oleh sahabat Abu Bakar As Siddiq.  Di mana Saad cukup terkenal sebagai sahabat yang sangat ramah.

Abu Bakar mengajak Saad untuk menemui Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam di perbukitan dekat kota Makkah. Pertemuan dengan Baginda Nabi ini sangat mengesankan pada Saad. Ia segera menerima ajakan sahabat Abu Bakar untuk masuk Islam dengan tangan terbuka. Sehingga Saad menjadi salah satu sahabat nabi yang pertama kali masuk Islam.

 

Anak panah pertama Sa’ad

Sa’ad merupakan orang yang ahli dalam ilmu panah memanah. Sa’ad adalah muslim yang pertama kali melepaskan anak panahnya dalam perangnya. Dia juga sahabat yang terkena anak panah dalam peperangan yang sangat dahsyat.

Suatu ketika rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda di tengah berkecamuknya perang Uhud  “Panahlah hai Sa’ad. Bapakku menjadi jaminan bagimu”.

Sahabat Ali bin Abi Thalib juga  berkata “Tidak pernah aku dengar baginda nabi mengatakan bapak ibunya sebagai jaminan seseorang kecuali untuk Sa’ad”.

Sa’ad adalah seorang ksatria muslim  yang gagah berani. Dia punya 2 kekuatan yang sangat dahsyat. Panah dan doa. Ketika dia memanah, jarang melesat dan pasti kena tepat sasaran. Jika dia menengadahkan tangan, berdoa, Allah kabulkan doanya.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari doa rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk sahabat Sa’ad.

Suatu ketika, baginda nabi menyaksikan sesuatu yang sangat menyenangkan hati beliau dari Sa’ad. Selanjutnya, baginda nabi berdoa dan bermunajat “Ya Allah tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya (Saad bin Abi Waqhosh)”

Inilah sedikit kisah kehidupan nabi Muhammad yang penuh inspirasi, ilmu dan teladan. Semoga kita selalu bisa mempelajari dan mendalami sirah nabawiyah agar kita selalu bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah kehidupan beliau.

 

Di tulis oleh:

Abi Daril Hasan

Santri PP. Raudlatut Thalabah

asuransi syariah, life insurance, car insurance, student insurance

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*