Perkembangan Anak Secara Kognitif. Memahami Hal Hal Kecil yang Jarang Di Ketahui Orangtua

perkembangan kognitif anak

Fataya- Memahami Perkembangan Anak adalah tugas utama kita sebagai orangtua. Di mana kita adalah orang yang di percaya oleh Allah untuk merawat dan mendidik anak anak hingga bisa mengantarkan mereka menuju sukses dunia ahirat.

perkembangan kognitif anak

Membantu mengoptimalkan perkembangan otak anak-anak

Ayah Bunda, perlu kita ketahui bahwa masa balita merupakan masa dimana perkembangan otak anak-anak itu perkembangan sangat cepat luar biasa. Ini merupakan waktu yang sangat tepat bagi kita orangtua untuk membantu mengoptimalkan perkembangan otak anak-anak dengan cara memberikan stimulasi secara maksimal dalam kehidupan mereka sehari-hari. Lingkungan yang aman, nyaman dan tentram penuh kasih sayang akan mengenalkan anak-anak pada rasa cinta. Anak yang tidak didasarkan dengan cinta kasih akan mengalami pertumbuhan otak yang kurang baik. Berikut ini yang merupakan stimulasi-stimulasi yang dapat kita lakukan.

Sentuhlah bayi anda

sebuah penelitian telah membuktikan bahwa pijatan yang lembut pada anak-anak selama 15 menit dengan frekuensi 3 kali seminggu dapat membantu meningkatkan berat badan bayi. Selain menjadikannya lebih peka dan nyaman sehingga jarang menangis. Ruangan yang tidak terlalu terang dan gendongan yang memungkinkan si kecil mendengar detak jantung ibunya juga akan mampu meningkatkan pertumbuhan serta kesehatan bayi yang lahir secara premature.

Perhatikan kemampuan pendengaran dan bicara bayi

Berbicara kepada bayi dalam aktivitas sehari-hari akan banyak membantunya untuk cepat menggumam. Kita bisa menyebutkan aktifitas apa yang telah kita lakukan dan menyebutkan nama-nama benda yang ada di sekitar kita. Kita juga bisa memperlihatkan ekspresi wajah kita. Kita bisa menghindari mengajarkan 2 macam bahasa secara bersamaan, sehingga anak-anak menguasai bahasa ibunya sendiri. Setelah anak-anak menguasai bahasa ibunya, kita baru bisa mengajarkan bahasa yang lain kepada si kecil.

Kita bisa ajak ia melihat lingkungannya sejak usia 2 hingga 4 bulan untuk membantu perkembangan otak si kecil. Kita bisa mengajarinya mengenalkan warna-warna wajah-wajah dan aneka bentuk benda yang ada di lingkungan sekitar. Perkembangan mengenal warna sekecil itu mulai sempurna di usia 8 bulan. Jadikan proses pembelajaran dalam segala kesempatan setiap hari adalah proses belajar bagi si kecil yang sangat menyenangkan bisa dimulai dari saat mengenakan baju. Kita bisa memberitahu si kecil baju apa yang tengah dia pakai apa warnanya saat kita menyiapkan sarapan pagi. Kita bisa membiarkan Ia bermain dengan mainan plastik yang sama dengan apa yang kita gunakan untuk memberinya sarapan pagi. Kita juga bisa menyebutkan nama dari alat-alat yang kita pakai dalam rangka menyiapkan sarapan paginya. Saya juga bisa menyebutkan benda-benda, sifat-sifat benda, seperti; piring, mangkok, gelas, sendok, panas dingin besar kecil dan lain-lain

Musik bisa membantu kemampuan matematika anak

Perlu kita ketahui, memperkenalkan musik secara berirama kompleks, seperti lagu-lagu klasik. Irama ini banyak Membantu perkembangan area otak yang akan meningkatkan kemampuan matematika dan ilmu eksakta serta kemampuan spasial anak. Hubungan emosional sangat berpengaruh pada tingkat stres atau pun relaksasi anak. Perlu Ayah Bunda ketahui bahwa, kenangan sangat berpengaruh pada reaksi emosional yang muncul dalam beberapa situasi yang dihadapi oleh anak. Semakin banyak kenangan yang tersimpan maka semakin kuatlah kemampuan otak untuk mengingat dan memahami. Ingatan anak yang kuat di dalam hidupnya sifatnya itu permanent. Kelalaian dan trauma yang dihadapi anak-anak selama masa anak-anak bisa menimbulkan masalah belajar atau mempengaruhi tingkah laku dalam perkembangan otak mereka

Tingkatkan aktivitas fisik bayi

Perlu kita ketahui bahwa tubuh anak-anak itu sesungguhnya sangat membutuhkan stimulasi motorik halus dalam (jari tangan dan jari kaki) serta simulasi motorik kasar atau berlari dan melompat. Kita bisa membiarkan si kecil melakukan aktivitas fisik yang beragam selama dalam masa pertumbuhannya. Selama masa pra sekolah kita bisa menyaksikan ia mencoba untuk memanjat, mencoba meniru melakukan gerakan secara pelan-pelan ataupun secara cepat serta mengenal lembut dan keras dengan tekstur yang berlainan.

Tingkah laku si kecil

Anak-anak bisa mengambil banyak perilaku dari orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya.Contohnya, jika suara orang tuanya keras dalam aktivitas sehari-hari maka tentu si kecil akan banyak meniru suara orang tuanya yang keras itu. Jika orang tuanya bersuara dengan suara yang lemah lemah lembut, kepadanya maka si anak akan bersikap sama lembutnya dengan suara orang tuanya. Tentu sikap ini akan mampu memperkaya tingkah laku anak secara bertahap

Saat anak bertanya tentang letak surga

Salah satu perkembangan anak adalah mulai mengenal sesuatu yang bersifat abstrak. Sesuatu yang tidak tampak oleh mata, contoh anak mulai menanyakan di mana letak surga Ibu” Dimana letak surga itu Tuhan itu? Seperti apa bentuknya? Ini pertanyaan yang sangat membingungkan. Sebagaian orangtua tidak memahami dan tidak mengerti jawaban yang tepat untuk anak-anak Namun kita sebagai orang tuamu tidak mau kita harus memberikan jawaban atas pertanyaan anak itu. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak bertanya sesuatu tanpa ada jawaban yang pasti. Dan jawaban ini tentu harus bisa diterima oleh Nalar anak-anak. Mimi Doe dan Marsha Walc dalam buku “10 Prinsip Siritual Parenting” mengungkapkan bahwa seorang anak sebenarnya terlahir sebagai makhluk spiritual Sekarang Tinggal bagaimana kita sebagai orangtua mengasah dan mengembangkan jiwa spiritualisme anak yang sudah ada sejak dalam kandungan. Menerangkan arti surga dan neraka kepada anak kecil itu sangat penting. Memberi pemahaman tentang maknanya sebagai salah satu batas antara yang boleh dan yang tidak boleh. Apalagi dalam agama Islam percaya kepada surga dan neraka itu termasuk salah satu rukun iman. Prinsip ini ada kaitanya dengan ibadah dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sekarang permasalahannya adalah bagaimana cara kita sebagai orang tua menerangkannya kepada si kecil. Penjelasan berikut ini mungkin bisa membantu menjadi dasar bagi orang tua untuk memberikan pemahaman kepada anak-anaknya.

Jawablah sesuai dengan pengetahuan Ayah Bunda

Ayah Bunda, dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan anak-anak tentang hal-hal yang bersifat abstrak Contohnya seperti surga dan neraka menurut Burcham, Orangtua harus mampu menyebarkannya sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri. Bagi umat Islam beriman akan adanya surga dan neraka merupakan salah satu Rukun Iman. Katakan kepada anak-anak tentang Mengapa Allah menciptakan keduanya yaitu Bahwa surga merupakan Hadiah atau balasan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 25)

Sedangkan neraka merupakan tempat hukuman bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah, durhaka dan bermaksiat kepadaNya. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-a’raf: 179)

BACA JUGA :   Fakta Ilmiah Tentang Manfaat Tidur Siang Yang Jarang Terpikirkan Oleh Kita

Sebagai orangtua, kita tidak boleh bosan-bosan untuk menjawab pertanyaan si kecil. Meskipun ia menanyakan hal yang sama berkali-kali setiap hari. Setiap anak itu memerlukan penjelasan yang sesuai dengan nalar dan kemampuan kognitif mereka ujar Burcham. Bila perlu kita bisa memberikan cerita-cerita yang terdapat di dalam Al Qur’an tentang situasi surga dan neraka, bagaimana keindahan dan kenikmatan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman ketika nanti masuk ke dalam surga. Atau sebaliknya, kita bisa menceritakan bagaimana keadaan yang ada di neraka. Di mana orang-orang yang durhaka dan tidak mau beriman kepada Allah, tidak mau menyembahNya. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka. Mereka akan disiksa dengan siksaan yang amat pedih selama-lamanya. Pada umumnya, anak-anak lebih cepat mengerti dan memahami jika kita menyampaikan melalui cerita. Asalkan yang kita ceritakan itu sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Melalui cerita dan kisah-kisah yang menarik yang bersifat spiritual keagamaan secara tidak langsung, anak-anak akan mulai mengerti dan memahami nilai-nilai yang bersifat keagamaan.

Misalnya agar anak-anak bisa masuk surga, maka ia harus taat kepada orangtua, berperilaku baik, sopan, santun kepada orang lain, bersikap jujur dan terbuka, senang dan ikhlas membantu orangtua serta hal-hal lain yang bernilai positif dan sosial. Tetapi kita juga tidak boleh hanya menunggu hingga mereka bertanya.

Kita sebagai orangtua bisa mulai bercerita kepada anak-anak sejak usia dini. Saat kita menemukan waktu yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai keimanan anak, orangtua juga bisa mengajarkan kepada anak-anak tentang nilai-nilai puasa dan mulai belajar melaksanakan shalat lima waktu secara bertahap, sedikit demi sedikit. 1 hal yang harus dihindari adalah dengan tidak berkali-kali menakut-nakuti anak dengan mengatakan hal yang sifatnya bohong. Menakut-nakuti anak hanya akan berdampak buruk bagi psikologis dan kejiwaan mereka. Selain itu, mereka juga akan mudah kehilangan rasa optimis dan percaya diri mereka kepada orangtua ketika mereka sudah dewasa nanti pondasi keimanan yang ditanamkan pun tidak akan sekuat yang diharapkan.

Orang tua ikut memberikan contoh dan teladan

Ayah Bunda, selain memberi penjelasan secara lisan faktor terpenting lain dalam rangka untuk menumbuhkan optimisme semangat dan antusiasme anak-anak. Kita bisa memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? Percuma sekali kita berusaha menanamkan nilai-nilai agama kepada anak tanpa Ia mendapatkan pengalaman dan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian teladan harus ditekankan sebaik mungkin misalnya dengan usaha menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan berusaha meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah semaksimal mungkin.

Selain contoh nilai-nilai sosial dan moral. Kita juga bisa mencontohkan melalui praktek ibadah salat lima waktu yang rutin. Kita laksanakan doa sebelum dan sesudah makan. Mengucapkan salam saat mau masuk atau saat keluar dari rumah. Kegiatan dan aktivitas yang diperlihatkan oleh orang tua secara konsisten ini akan menjadi sebuah rutinitas dan kebiasaan positif bagi anak-anak. Dengan contoh teladan yang nyata itu, secara reflek, anak-anak tidak akan banyak bertanya apakah ia masuk surga atau neraka. Namun semua itu ia lakukan dengan penuh keikhlasan.

Ayah Bunda, lingkungan yang mendukung juga Mulai harus kita kenalkan kepada anak-anak. Dukungan dari orang dekat kita mulai dari kakek nenek, pembantu rumah tangga, Kakak, Adik. Semuanya harus sepakat dalam rangka untuk membentuk karakter dan kebiasaan positif anak-anak di antara ayah ibu, orangtua kakek-nenek semua orang dewasa yang ada di rumah itu punya standart dan persamaan jawaban jika sewaktu-waktu anak bertanya tentang sesuatu.

Mulai mengenalkan nama-nama hari kepada anak

Suatu ketika, sesaat sebelum Dewi berangkat ke kantor Sari anaknya yang baru berusia 4 tahun mengingatkan Dewi untuk Tidak lupa mengantarkannya ke tempat bermain besok. Besok hari Selasa, Sari pergi ke sekolah lagi. Mama janji antar, kan? Dewi tersenyum mengangguk kepadanya. sekilas sepertinya tak ada yang istimewa tapi itulah kali pertama kalinya Dewi mendengar anaknya menyebutkan nama hari dalam percakapan.

Tak sebatas daya ingat anak

Sungguh tidak berlebihan sekali Jika Dewi merasa demikian, Mengapa? Karena memang kemampuan mengenal konsep hari membutuhkan pemahaman yang matang.

Perlu Ayah Bunda, ketahui bahwa kemampuan seorang anak dalam menyebutkan nama-nama hari dengan baik dan benar biasanya dipandang sebagai perkembangan daya ingat si kecil. Setelah ia mampu mengulang kembali kata-kata baru. Dalam hal ini nama hari yang kita ajarkan.

Namun sesungguhnya, kemampuan anak dalam menggunakan nama-nama hari dalam percakapannya itu sangat berhubungan erat dengan pemahamannya tentang waktu. Bagi anak-anak sampai tepat pada pemahaman ini memang tidak mudah. Si kecil membutuhkan beberapa waktu yang cukup panjang. Ketika si kecil belum berusia 1 tahun, anak hanya mengenal kehidupan di waktu sekarang karena memang anak-anak masih memiliki memori jangka pendek. Memori anak-anak tidak cukup kuat untuk menyimpan kejadian-kejadian di waktu lampau. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Ketika anak-anak menginjak usia ketiga, seiring menguatnya Memori si kecil. Kemampuan mengingat peristiwa peristiwa di masa lalu sudah mulai dimilikinya. Walaupun demikian pada usia ini anak-anak belum mampu mengidentifikasi waktu kejadian dengan tepat. Misalnya saja sering sekali terjadi peristiwa yang berlangsung kemarin dikirannya terjadi tadi pagi. Atau sebaliknya bagi anak-anak ini, konsep waktu masih sangat kabur.

Matang setelah tahun ke 4

Ayah bunda, kematangan pemahaman anak-anak terhadap konsep waktu itu biasanya mulai ketika memasuki usia yang keempat.  Pada usia sekarang ini si kecil tidak saja dengan cepat mengidentifikasi kapan sebuah peristiwa terjadi melainkan mengembangkan Konsep waktu yang akan datang. Kemampuan ini akan terlihat dengan jelas pada peristiwa yang dialami oleh ibu Dewi tadi.

Sari yang seminggu 3 kali ikut kegiatan taman bermain. Dia masih ingat benar bahwa pada hari Selasa, dia akan pergi ke taman bermain yang bertemu dan bermain dengan teman-temannya. Ketika Sari menginggatkan ibunya, bahwa kegiatan itu belum terjadi. Namun pemahamannya tentang waktu sudah sampai pada tingkat kematangan yang cukup tinggi. Sehingga si kecil mulai dapat menggunakan keterangan waktu dengan tepat dan benar.

Pada usia 4 tahun ini, anak-anak umumnya sudah mulai bisa memahami bahwa waktu adalah sesuatu yang berkelanjutan. Umumnya anak-anak mulai mengenal bahwa waktu memiliki satuan yang bisa diukur dengan menggunakan jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Pemahaman inilah yang akan membuat anak usia 4 tahun mulai dapat menyebutkan nama hari dalam seminggu secara berurutan. Bahkan ia menunggu hari ulang tahunnya.

Tidak semua anak itu sama

Perlu Ayah Bunda ketahui bahwa sekalipun para ahli perkembangan otak anak berpendapat, bahwa pemahaman waktu sebagai suatu konsep umumnya dikembangkan pada masa anak-anak. Sebaiknya kita sebagai orangtua tidak gusar dan kuatir jika anak usia 4 tahun belum dapat mencapai kematangan tersebut. Tidak ada salahnya memperkenalkan nama hari kepada anak-anak, namun jangan berharap lebih dia akan menggunakannya dalam kesempatan percakapan sehari-hari sebelum waktunya. Kemampuan ini akan berkembang baik jika anda mengajak si kecil memahaminya lewat kegiatan sehari-hari. Misalnya saja dengan mengajak si kecil menghitung Berapa banyak lampu lalu lintas yang akan dilewati dalam perjalanan menuju rumah kakek neneknya. Dan cara ini tidak akan langsung bisa mengajarkan tentang waktu itu kepada sekecil. Artinya memberikan pemahaman kepada si kecil bahwa ada rentang waktu yang akan dilaluinya sebelum ia bisa mencapai suatu tempat.

Dengan memahami tahapan demi tahapan yang perlu dilalui oleh seorang anak untuk mencapai pemahaman yang matang akan membuat kita menjadi orangtua yang semkain dewasa. Kita tidak hanya kuatir dengan perkembangan anak yang terkadang nampak lambat tapi itu semua adalah bagian dari proses yang harus di laluinya untuk mencapai usia matang.

Referensi: Buku “Pintar Menghadapi Tumbuh Kembang Anak”

asuransi syariah, life insurance, car insurance, student insurance