Nikmatnya Rejeki Anak. Inilah Nikmat Besar Yang Jarang di Sadari oleh Pasangan Suami Istri

bahagia bersama anak

Nikmatnya Rejeki Anak. Inilah Nikmat Besar Yang Jarang di Sadari oleh Pasangan Suami Istri

Nikmatnya punya anak

Nikmatnya punya anak

FATAYA- Nikmatnya karunia Allah berupa anak. Mempunyai anak merupakan nikmat Allah yang sangat besar buat pasangan suami istri. Setelah kita menikah maka yang diharapkan adalah mempunyai anak.

Anak adalah karunia besar bagi pasangan suami istri dalam bahtera rumah tangga. Anak menjadi penghias, penyejuk dan peramai dalam rumah tangga.

Rumah yang didalamnya ada anak-anak kecil ibarat rumah yang mempunyai hiburan yang menyenangkan yang setiap saat bisa menghadirkan bahagia dan keceriaan dalam keluarga.

bahagia bersama anak

gambar: pixabay

Betapa banyak pasangan suami istri yang sudah lama menikah bertahun-tahun tapi sama Allah belum dikaruniai momongan.

Mereka awal-awal menikah merasa bahagia, sakinah, tenang dan damai tapi dengan berjalannya waktu pasangan suami istri ini merasa kesepian. Merasa ada sesuatu yang kurang di rumah.

Rumah terasa sepi hambar dan hampa tidak ada penghibur. Rumah yang tidak ada anak kecil membuat isi rumah menjadi mudah bosan dan mudah frustasi.

Dalam sebuah film yang berjudul The Back Up Plan”. Sebuah film yang dibintangi oleh Jennifer Lopez. Film ini menceritakan tentang seorang perempuan yang sangat ingin memiliki anak. Tokoh perempuan yang dimainkan oleh Jennifer Lopez ini sering membayangkan indahnya menjadi seorang ibu.

Begitu ingin dia menjadi seorang ibu, dia tidak mempermasalahkan jika dari donor sperma yang tidak diketahui pemiliknya dia melakukan hal itu karena tidak memiliki pasangan. Dia hanya ingin menikmati peran lika-liku menjadi seorang ibu.

Sebuah pertanyaan, mengapa sampai demikian?

Jawabnya karena dia sudah biasa melakukan zina. Menurut wanita itu menikah untuk memiliki anak tidak penting.

Ada sebuah pertanyaan menarik, Mengapa kebanyakan orang begitu antusias untuk memiliki anak?

Bahkan,tidak sedikit orang yang rela memilih proses bayi tabung seperti tokoh yang diperankan dalam film itu.

Padahal,

Bagi pasangan suami istri yang sudah dikaruniai keturunan, mungkin sudah merasakan betapa bahagianya memiliki anak.

Memang sih di satu sisi memiliki anak itu membuat kesal, capek, letih dan lelah tapi disisi yang lain memiliki anak itu banyak hal yang menyenangkan dalam proses interaksi dengan anak.

Faktanya anak-anak kita lebih banyak akur dan damainya daripada berantemnya. Anak-anak lebih banyak tidak menangis dari pada nangisnya kecuali ketika mereka sedang sakit.

Artinya anak-anak lebih banyak memberi bahagia daripada menyusahkan. Ketika dilempar sebuah pertanyaan kepada banyak orangtua yang sudah memiliki anak, sebuah pertanyaan “Bagi anda sebenarnya anak itu anugerah atau beban?”.

Sebagian besar orangtua menjawab “Anak adalah anugerah”. Sedangkan yang sebagian kecil menjawab “Anak itu anugerah juga beban”. Sangat sedikit bahkan hanya sekitar 20 sampai 30 orang dari sekitar 200 peserta yang menjawab anak adalah beban.

Kemudian dengan isi dan substansi yang sama pertanyaan itu saya rubah sedikit “Bagi bapak ibu anak lebih banyak memberi atau meminta?”

Coba tebak Apa jawaban yang paling banyak. Apa jawaban yang dominan dari pertanyaan ini? Jawabannya adalah “Meminta”. Banyak orangtua yang memahami bahwa jika anak itu banyak meminta perhatian adalah beban.

Berdasarkan ide dan pemikiran itu, jika anak merupakan anugerah dari Allah seharusnya anak banyak memberi.

Ini pemahaman yang dangkal, pemahaman yang perlu dikaji ulang.

Kenyataannya, tidak sedikit orangtua yang memiliki pemikiran dan pemahaman bahwa banyaknya permintaan anak itu sesungguhnya menjadi investasi bagi orangtua dan ladang kebaikan baginya. Jadi intinya ya, anugerah juga.

Bayangkan, sejak anak-anak kecil kita orangtua sudah merawat mereka. Memberi makan mereka. menjaga mereka dari bahaya. Memandikan dan menggantikan baju mereka. menidurkan mereka hingga terlelap dalam mimpi. Semua itu adalah kebaikan-kebaikan kita bukan untuk anak-anak tapi untuk diri kita sendiri.

Benarkah anak adalah anugerah?

Anda boleh tidak setuju dengan pernyataan ini, tetap menurut saya anak itu sesungguhnya lebih banyak memberi Anugerah daripada menimbulkan beban.

Saya termasuk orang yang sangat tidak setuju jika ada pendapat yang menyatakan bahwa anak lebih banyak meminta daripada memberi.

Orangtua yang kurang setuju dengan pendapat ini mungkin akan bertanya apa yang Allah berikan kepada kita lewat anak anak.

Jawabannya tidak bisa dihitung, sangat banyak sekali.

Indahnya sesuatu yang diberikan Allah kepada kita ketika kita melihat bayi kita yang berusia sekitar 2-3 bulan tersenyum untuk pertama kalinya?

Apa yang kita rasakan ketika balita kita bernyanyi di atas sofa riang gembira?

Apa yang kita rasakan ketika anak kita berceloteh bercerita dan berusaha mengajak bonekanya berbicara?

Apa yang kita rasakan ketika anak kita mencium pipi kita dengan antusias?

Apa yang kita rasakan ketika kita menatap wajah anak kita yang sedang tidur?

Apa yang kita rasakan ketika anak kita mulai beranjak remaja dia mulai curhat tentang gurunya di sekolah, temannya di kelas, teman permainan, teman sebangkunya?

Apa yang kita rasakan? Apakah kita langsung ngerasa sakit hati? Tentu saja tidak, kita merasakan hal yang positif, kebahagiaan, wonderful.

Dalam bahasa Al Quran, anak sering disebut dengan kata waladun atau jamaknya Auladin artinya anak anak. Anak adalah amanah dan titipan Allah yang harus dijaga dan dipelihara sebahik-baiknya.

Biasanya anak juga disandingkan dekat dengan kata amwal artinya harta. Harta itu oleh Allah diberikan kepada manusia sebagai rezeki dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Dimana harta itu merupakan karunia yang menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Sebaliknya jika tidak pandai mengelolanya justru harta itu akan mencelakakan orang yang diberi harta tersebut. Allah berfirman dalam Al Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٢٧﴾

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ﴿٢٨﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 27-28)

Saat kita benar benar menjaga dan memelihara anak sebaik baiknya dengan memberikan pendidikan terbaik. Memberikan contoh dan teladan dalam aktifitas sehari hari.

Mencarikan guru agama yang benar dan lurus. Mengenalkan ilmu dunia dan sains teknologi di sekolah. maka kita sudah berusaha dan ikhtiar dalam rangka menjaga amanah Allah berupa anak.

Begitu juga dengan anak, anak adalah anugerah yang sangat besar dari Allah rezeki yang sangat menyenangkan. Tugas orang tua mendidik anak dengan ilmu dan teladan.

BACA JUGA :   Kisah nabi Daud berjuang dan berdakwah dengan kekuatan

Dengan bekal ilmu, teladan dan sopan santun anak akan tumbuh menjadi anak yang soleh solehah. Menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua.

Menjadi anak yang mau peduli dan tau diri. Dia akan bisa menempatkan diri pada tempatnya dimanapun dia berada.

Sebaliknya, jika anak tidak dididik dengan etika dan tata krama yang benar sesuai dengan tuntunan dari Allah dan rasulNya, maka anak akan menjadi beban dan masalah bagi orangtua, lingkungan dan masyarakat.

Keluarga yang mendapatkan karunia dan kenikmatan berupa anak.. Mereka akan berbeda-beda cara pandang dan sudut pandangnya ketika mereka menerima kehdiaran si buah hati.

Begitu banyak orangtua yang merasa senang dan bahagia bersama anak-anak yang bisa bertemu tiap hari.

Sebaliknya tidak sedikit orangtua yang justru merasa susah ketika bersama anaknya. Mereka sengaja menjauhi anaknya pada saat-saat tertentu agar agar bebas dari beban.

Mengapa bisa terjadi demikian? tentu ada begitu banyak faktor yang menjadi penentu. 2 faktor utama antara lain niat dan cara orang tua mengelola anak adalah faktor yang lain. Semua itu terkait dengan niat yang berkaitan dengan pemaknaan orangtua terhadap anak-anaknya.

Setiap orang tua harus memiliki pemahaman yang betul tentang alasan mereka menikah. Memiliki anak dengan faktor pengelolaan adalah sangat terkait dengan pola-pola perkembangan dalam mengasuh anak.

Niat memiliki anak merupakan faktor utama dan terbesar yang mempengaruhi faktor berikut ini yaitu Bagaimana cara orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Coba kita tanyakan, mengapa kita mempunyai anak?

Jawaban tentu berbeda beda loh. Akan tetapi ada dua jawaban yang paling banyak diberikan oleh orangtua.

Pertama niat banget untuk memiliki anak. Hal ini dilandasi oleh idealisme pasangan suami istri. Dan jawaban yang kedua mengalir begitu saja.

Sebagian besar orang tua ketika ditanya apa alasan ingin punya anak, sebagian besar memang menjawab “niat banget untuk memiliki anak”.

Dengan berbagai macam alasan seperti anak merupakan investasi Dunia Akhirat. Anak penerus generasi. Anak meneruskan keberlangsungan kehidupan keluarga ketika orang tua sudah tiada. Ada yang mengurus kelak ketika orangtua sudah tua renta.

Dan anak akan mendoakan besok kalau orangtua sudah meninggal. Dengan harapan, anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Ada juga keluarga yang bingung sendiri ketika ditanya alasan mempunyai anak. Ada yang menjawab “Ya begitu saja, mengalir”. Orang menikah itu kan umumnya memang punya anak anak itu anugerah yang diberi oleh Allah ya kita terima begitu saja.

Ada yang jawab lain, “Punya anak itu takdir dari Allah, ya kita terima” Memang segala yang terjadi di muka bumi ini bisa terjadi hanya dengan Takdir dan izin Allah semata.

Tetapi tentu tidak lepas dari sunnatullah atau proses yang harus dijalani oleh manusia misalnya nih, Seekor kuda yang terlepas adalah takdir dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika Kuda itu terlepas dari pelananya tentu ada prosesnya. Misal, karena tidak diikat dengan benar.

Begitu juga dengan ketika kita mempunyai anak, memang anak adalah takdir dari Allah. Anak lahir ke muka bumi ini adalah takdir dari Allah dan semua melalui proses.

Maka jauh-jauh hari sejak awal sebelum menikah kita harus tahu mengapa kita ingin mempunyai anak.

Alasan pasangan nikah ingin punya anak

 

alasan pasangan suami istri ingin punya anak

Yuk kita bahas satu persatu, alasan orangtua ingin punya anak.

Pertama, mengalir begitu saja

Beberapa orangtua yang menyatakan pendapat dan alasan ketika mempunyai anak dengan jawaban mengalir begitu saja maka akan mempunyai dampak yang kurang baik perilakunya kepada anak. Mengapa?

Karena kita siap menikah tetapi kita tidak mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua. Akibatnya, pola asuh kita terhadap anak adalah pola asuh warisan atau paling tidak trial and error coba-coba.

Kriteria orangtua model seperti ini baru mempersiapkan diri setelah janin tumbuh di dalam rahim. Itu pun lebih banyak pada hal-hal yang bersifat aksesoris kelahiran bayi.

Seperti mempersiapkan baju bayi, bedongan bayi. Orangtua jenis ini lebih fokus kepada urusan kebutuhan jasmani anak, urusan pakaian, makanan, rekreasi, uang jajan.

Mereka kurang begitu paham dengan kebutuhan anak yang bersifat rohani Seperti ilmu, teladan dan ilmu pengetahuan.

 

Kedua, Niat Banget Punya Anak

orang tua model ini biasanya mengalir begitu saja berkenaan dengan memiliki anak atau tidak. Mereka hanya ikut-ikutan mempunyai anak.

Orangtua model ini biasa disebut orangtua kebetulan. Tentu saja ini berbeda dengan orangtua “betulan” yang sangat berahrap mempunyai anak.

Orang yang sangat ingin punya anak, mereka biasanya sebelum nikah sudah mempersiapkan pola atau cara, metode membesarkan anak-anak yang akan mereka lahirkan.

Biasanya mereka mempersiapkan baju bayi jauh sebelum anak lahir. Bukan hanya baju, popok, kereta dorong dan topi yang disiapkan tetapi yang disiapkan adalah baju akhlak yang mulia, kereta dorong pemikiran yang aman dan nyaman untuk menemani anak membersamai anak. Serta norma norma dan etika yang disiapkan untuk membekali anak sebagai makanan dan nutrisi di awal-awal kehidupan mereka.

Di awal-awal pernikahan mereka rajin membaca banyak buku tentang pendidikan anak, rajin mengikuti workshop dan seminar pendidikan anak.

Bahkan mereka sudah membiasakan hal ini jauh hari sebelum menikah. Tentu saja orang-orang yang sudah mempersiapkan diri dengan hal di atas bukan serta merta menjadi jaminan akan menjadi orangtua hebat.

Tetapi minimal dengan persiapan itu mereka sudah menyiapkan mental dan skill mereka untuk menerima anugerah Allah berupa anak. Dimana anak adalah anugerah sangat besar dari Allah untuk keluarga.

Dengan pemahaman yang benar, orangtua akan menanamkan pola asuh yang baik terhadap anak-anaknya dibanding dengan orangtua yang tidak mempersiapkan diri dengan banyak membaca buku dan ikut seminar.

Sebuah pertanyaan menarik, apakah kita ini menjadi orang tua betulan atau orangtua kebetulan?

Jawaban ini akan menentukan sikap dan mental kita selanjutnya.

Apakah kita akan tetap menjadi orangtua kebetulan dan tidak mau berubah sama sekali. Atau sebaliknya, setelah kita tahu bahwa selama ini kita adalah orangtua kebetulan bagaimana kita akan berubah dan mau merubah diri dengan belajar, banyak membaca buku, ikut seminar, ikut workshop pengasuhan anak.

Harapan kita, dengan edukasi dan pola asuh yang baik terhadap anak, kita berharap semoga Allah mengaruniakan kita anak-anak yang cerdas, terampil, siap menghadapi kehidupan.

Dan akhirnya mereka menjadi anak yang soleh solehah, mendoakan orang tua berbakti kepada orang tua dan akhirnya bisa menjadi investasi bagi orangtua di akhirat kelak.

By: Abidzar

Penulis buku “Menjadi Remaja Emas”

asuransi syariah, life insurance, car insurance, student insurance