Anak, Antara Anugerah Dan Ujian hidup Pasangan Suami Istri

Agar-Anak-Istri-dan-Harta-Benda-Tidak-Menjadi-Fitnah

Anak, Antara Anugerah Dan Ujian hidup Bagi Pasangan Suami Istri. setiap pasangan suami istri pasti ingin kehadiran buah hati yang imut imut dan lucu dalam kehidupan rumah tangga mereka. Kehadiran bayi dan anak-anak bagai oase di padang pasir yang mampu menghalau dan menghilangkan kejenuhan dalam rumah tangga.

Agar-Anak-Istri-dan-Harta-Benda-Tidak-Menjadi-Fitnah

Sumber gambar: cahayaislam.id

 

Di luar sana, ada begitu banyak pasangan suami istri yang sama Allah belum di karuniai anugerah berupa anak. Lantas apa alasan alasan kenapa pasangan suami istri sama Allah belum di karuniai buah hati dalam kehidupan mereka? Tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan ini, tetapi ada beberapa sebab yang memungkinkan pasangan suami istri belum juga mendapat momongan dalam bahtera rumah tangga mereka. Inilah alasan pasangan suami istri belum juga di karuniai momongan:

Belum ingin punya anak

Memang ada ya pasangan yang tidak ingin punya anak? Iya, ada. Mereka menganggap anak adalah bebab (dalam tanda kutip). Makanya, di hati mereka tidak ada keinginan untuk mempunyai anak. Maka jangan heran jika hidup mereka sepi dan jauh dari riang gembira karena belum hadirnya buah hati dalam hidup mereka.

 

Nunggu punya rumah

Ada juga pasangan suami istri yang takut punya anak lantaran belum punya rumah. Mendengar harga rumah yang mahal, nyali dan mental mereka jadi ciut dan kuatir kalau punya anak. Di antara mereka ada yang bilang “Bagaimana mau punya anak, rumah saja masih ikut orangtua”. ada lagi yang bilang “Ini rumah saja masih ngontrak kok, jangan punya anak dulu, nanti apa yang buat bayar kontrakan.” kekawatiran ini menjadi pemicu utama Allah tidak mengaruniakan buah hati dalam bahtera rumah tangga mereka.

Nunggu usaha mapan

Ada juga pasangan suami istri yang sama Allah belum dikaruniai anak dalam rumah tangga mereka, lantaran mereka merasa belum mapan usahanya. Alasan mereka, Usaha masih jalan di tempat, usaha masih gitu gitu saja. “Kalau sekarang sama Allah di kasih anak, nanti bagaimana mau membiayai kebutuhan anak kalau usaha saja belum mapan?” begitu jawaban mereka kalau ada saudara, kelaurga tentagga yang nanya.

Belum diijinkan oleh orangtua

Ada juga pasangan suami istri yang takut punya anak gara-gara ada ultimatum dari orangtua mereka bahwa mereka gak boleh punya anak dulu. Alasannya? Alasannya macam macam. bisa jadi biar bisa bantu-bantu orangtua membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Ada juga yang orangtua melarang mereka punya anak hingga mereka punya rumah sendiri, tidak numpang di rumah orangtua apalagi hanya ngontrak.

Lalntas bagaimana kita sebagai seorang muslim yang beriman dan yakin kepada Allah Subhanahu Wata’alaa? Apakah kita takut untuk tidak punya anak dulu gara-gara menganggap bahwa anak adalah beban dalam keluarga?

Apakah kita merasa takut dan kuatir mempunyai anak karena kita belum punya rumah sendiri  yang layak ditempati?

Apalah kita takut punya anak karena usaha kita masih kecil dan belum mapan?

Bukankah anak adalah anugerah Allah buat pasangan suami Istri?

Betapa banyak pasangan suami istri yang puluhan tahun nikah, hingga kini masih nunggu kehadiran buah hati?

Betapa banyak pasangan suami istri yang tiap hari berdoa kepada Allah agar di karunia anak?

Betapa banyak pasangan suami istri yang tiap saat datang konsultasi ke dokter spesialis anak, sebab mereka lama nikah tapi belum juga di karuniai anugerah berupa anak?

Bukankah setiap yang lahir di muka bumi ini sama Allah sudah dijamin jatah rejekinya termasuk anak anak kita?

Lantas apa yang membuat kita ragu untuk menerima anugerah Allah berupa anak?

Padahal, anak adalah anugerah Allah yang sangat besar dalam setiap keluarga. Aank adalah rejeki besar dalam setiap pasangan suami istri. Allah berfirman dalam Al Quran:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

Artinya “Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang di inginkan, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran:14)

 

Karunia Allah berupa anak sangat berharga bagi keluarga dan pasangan suami istri. dimana kehadiran anak-anak dalam bahtera rumah tangga bikin sejuk pandangan mata. Bikin damai dan tenteram hati. Kebanggaan dan kehormatan orangtua. Bahkan nilai kebahagiaan orangtua yang memiliki seorang anak jauh melebihi bahagia karena memiliki harta, emas permata, hewan ternak, kendaraan dan sawah ladang yang luas.

Imaduddin Abul Fida Ismail bin al-Khatib Abu Hafs Umar bin Katsir asy-Syafi’i al-Quraisyi ad-Dimasyqi, atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, saat menerangkan tentang anak, beliau mengatakan bahwa anugerah anak terkadang bisa jadi kebanggaan, perhiasan, memperbanyak keturunan, memperbanyak umat nabi Muhammada Sallahu Alaihi Wasallam.

Di mana dengan hadirnya anak anak ini, anak anak akan beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’alaa. Maka memiliki banyak anak  dengan niat ini sangat terpuji dan dianjurkan. Hal ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam:

تَزَوَّجُوا الوَدُودَ الوَلُودَ، فَإنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأمَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ

Artinya “Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak (subur). Karena aku bangga dengan jumlah kalian yang banyak.” (HR Nasa’i)

Maka menikah, berkeluarga dan punya anak adalah fase meraih kebahagiaan di muka bumi ini. Betapa tidak,ada ungkapan “Menikah adalah surga dunia”, itu benar adanya. Bukan sembarang menikah tapi menikah dengan pasangan yang soleh solehah (dengan pertolongan Allah). Hal ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad  Sallahu Alaihi Wasallam :

الدُّنْيَا مَتَاع، وخَيْرُ مَتَاعِهَا المرْأةُ الصَّالحةُ، إنْ نَظَرَ إلَيْها سَرَّتْهُ، وإنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْه، وإنْ غَابَ عَنْها حَفِظْتُه في نَفْسهَا وَمَالِه

Artinya “Dunia adalah perhiasan. Sebaik baik perhiasan dunia adalah wanita salehah. watia uag apabila diapnang menenangkan jiwa. apabila di peritnah dia taat. Apabila saumi sedangf tidak ada di rumah dia bisa menjaga diri dan harta suami” (HR. Muslim)

Anak anak yang baik, cerdas soleh solehah akan lahir dari rahim wanita salehah yang memiliki ciri ciri dan kriteria sesuai yang di sebutkan oleh nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam dalam hadist diatas.

Allah berfirman dalam Al Quran:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً

Artinya “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan.” (Al Kahfi:46)

 

Bagi seorang muslim, anak bukan sekedar perhiasan untuk kebanggaan keluarga, penerus keturunan dan penyejuk hati dan jiwa saja. Tetapi anak adalah amanah dari Allah yang harus di jaga dan di pelihara. Gimana caranya? Memberikan makanan dari rejeki yang halal. Memberikan pendidikan agama dan akhlak yang cukup. Harapan kita, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menyejukan jiwa, berakhlak mulia dan berbudi luhur dan bersikap kesatria kelak ketika sudah dewasa.

Di mana menajaga dan memelihara anak dengan pendidikan agama, akhlak dan budi pekerti yang luhur adalah salah satu kewajiban orangtrua. Allah berfiman dalam Al Quran:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”  (At Tahrim:6)

Jasa besar orangtua dalam rangka mendidik anak, mengenalkan dengan ilmu agama, akhlak dan budi pekerti ini akan di nilai oleh Allah dengan amalan yang sangat besar. Apa yang dikerjakan oleh orangtua untuk anak-anaknya akan menjadi investasi akhirat yang nilainya tak terhingga di sisi Allah.

Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ اْلإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أوْ عِلْمٌ يَنْتَفِعُ بِهِ أوْ وَلَدٌ صَالحٌِ يَدْعُوْ لَهُ.

Artinya “Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Jadi bagi kita seorang muslim, investasi yang sesungguhnya bukanlah tabungan deposito, dan saham di bank tapi investasi terbesar kita adalah anak soleh dan solehah. Di mana anak soleh adalah anak yang tumbuh berkat pendidikan, keteladanan yang diberikan oleh orangtua kepada anak-anaknya secara ikhlas dan sungguh sungguh. Bagaimana tidak, nanti saat tiap orang meninggal dunia, mereka sudah tidak bisa sholat lagi, tidak bisa baca Al Quran, tidak mampu pergi ke masjid tapi karena dia punya anak yang soleh solehah. Anak yang tiap hari melaksanakan sholat, membaca al Quran, membaca sholawat dan ibadah ibadah lain yang dulu pernah diajarkan oleh orangtuanya. Maka dengan seijin Allah anak anak itu tiap hari, tiap saat mengirim makanan dan lebutuh berupa pahala dan kebajikan dengan seijin Allah.

BACA JUGA :   Doa Sholat Tahajut yang Mustajab Untuk Meraih Impian serta Cita Cita Dengan Mudah dan Cepat 

Di riwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي اْلجَنَّةِ, فَيَقُوْلُ: أَنَّي لِي هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

Artinya “Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu” (HR. Ibnu Majah)

 

Anak salah satu fitnah dunia

anak anugerah Allah
satujam.com

Mungkin ada diantara anda yang bertanya tanya, bagaimana bisa anak menjadi fitnah dunia? giman donk, susah kalau gitu saya punya anak? Merawat anak sejak kecil, eh sudah besar jadi fitnah bagi orangtua.  Tenang ya, tidak serta merta anak menjadi fitnah bagi orangtuanya di dunia ini. sebaliknya, anak bisa jadi penolong orangtua di dunia ini hingga di ahirat kelak.

Allah berfirman dalam Al Quran:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ

Artinya “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At Taghabun:14-15)

 

Jadi, anak dan istri bisa jadi  fitnah bagi kita . jika kita tidak bisa menjaga dan memelihara mereka. Kita tidak mendidik dan mengenalkan mereka dengan ajaran agama. Jangan sampai kehadiran istri dan anak anak dalam kehidupan kita menjadikan kita lalai dan lupa akan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Jangan sampai kehadiran mereka melalaikan kita dari cinta dan ingat kepada Allah Subahanahu Wata’alaa. Mencintai istri dan anak-anak boleh bahkan harus tapi bukan cinta buta tapi cinta karena Allah semata. Mencintai istri dan anak anak karena mereka adalah amanah dan titipan Allah yang harus di jaga dan dipelihara. Allah berfirman dalam Al Quranul karim:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ , وَاعْلَمُوا أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرُُ عَظِيمُُ

Artiya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al Anfal:27, 28)

Berkaitan dengan firman Allah diatas, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada hambaNya yang beriman untuk menunaikan segala amanat Allah, baik berupa perintah atau laranganNya. Sungguh, amanat Allah ini telah ditawarkan oleh Allah kepada langit, bumi tetapi mereka menolaknya karena merasa tidak mampu. Mereka kuatir jika tidak bisa menunaikan amanah itu dan menghianatinya.

Amanat itu kemudian oleh Allah diserahkan kepada manusia dan manusia menerimanya dengan senang hati. Padahal amanat Allah berat karena harus dipertanggung jawabkan di hari ahir nanti. Sungguh, manusia amat dhalim dan amat bodoh karena berani mengambil amanat Allah yang berat ini. Sebaliknya, manusia menganggap amanat ini sebagai anugerah dan kehormatan.

Barangsiapa yang menunaikan amanat tersebut dia akan meraih pahala dan kehormatan dari Allah. Sebaliknya, barangsiapa yang menghianati amanat Allah mereka akan menerima siksa dan hukuman dari Allah atas kelalaian mereka.

 

Pada ayat yang lain Allah berfiman:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَيَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلاَمَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الْغَرُورُ

Artinya “Hai manusia, bertawaqalah kepada Rabb-mu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaithan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqman:33)

 

Suatu fakta dalam kehidupan kita, betapa banyak orangtua yang banting tulang bekerja berangkat pagi pulang sore. Bekerja banting tulang peras keringat  demi mencari uang, demi mencukupi semua kebutuhan anak-anak dan keluarga. Terkadang karena begitu semangatnya bekerja, sampai lupa san lalai dengan kewajiban orangtua yang lain selain memenuhi kebutuhan jasmani berupa sandang, pangan dan papan. Orangtua sering lupa, bahwa anak-anak butuh ilmu, teladan dan agama. betapa banyak orangtua yang membiakan anaknya tidak belajar agama  tapi malah mengejar les, privat di lembaga kursus lain.

 

Orangtua sering mengingatkan anak-anak untuk rajin belajar dan mengerjakan PR tapi orangtua sering lupa mengajak anak-anak mengerjakan sholat 5 waktu dan mengaji Al Quran.

Padahal, kelak yang bisa menyelamatkan kita dan anak anak dari siksa Allah bukan skill bahasa Inggris, bahasa Peracis dan matematika tapi sholat, puasa dan bacaan Al Quran.

Betapa banyak keluarga yang menganggap bahwa sukses adalah saat anak anak bisa masuk sekolah negeri dan sekolah favorit.

Betapa banyak orang yang menganggap bahwa sukses adalah saat anak-anak bisa sekolah hingga perguruan tinggi dan mempunyai nilai cum laude. Betapa banyak oang yang menganggap bahwa orangtua di katakan sukses jika mampu mengantar anak-anak jadi juara di sekolah, menemukan pekerjaan yang bergengsi. Mungkin di satu sisi benar, bahwa sukses adalah juara di kelas, juara lomba dan olimpiade, dapat bekerja di perusahaan bonafit dan bergengsi. Tapi ini adalah salah satu bentuk sukses dunia. Jangan sampai kita hanya terjebak pada usaha mencapai sukses dunia saja. Ada sukses lain yang lebih penting yang lebih layak kita perjuangkan dalam hidup ini.

Sebagai orangtua kita wajib belajar dan memahami apa-apa yang menjadi kwajiban kitasebagai orangtua terhadap anak-anak. Agar kita bisa mengantar anak-anak mencapai sukses dunia ahirat. Inilah sukses yang sesungguhnya.

Lantas apa yang bisa menghapus dosa akibat fitnah yang ditimbulkan oleh anak ini? Bukankah saat kita tidak mau peduli dengan sholat anak, anak akan menjadi fitnah bagi kita. Iya, ada amalan tertentu yang bisa menghapuskan dosa sebab ftnah anak ini. Menurut imam Bukhari dan Muslim, ada 3 jenis amalan yang bisa menghapus doa akibat lalai dalam mendidik anak. Ketiga agama ini adalah; sholat, puasa dan amar makruf dan nahi mungkar. Ini sesuai dengan sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Imam Bukahri dalam shahihnya.

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أهْلِهِ وَمَالِهِ وَ وَلَدِهِ وَنَفْسِهِ وِجَارِهِ يُكَفَّرُهَا: الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ.

Artinya “Fitnah seseorang yang timbul dari keluarganya, anaknya, dirinya tetangganya bisa di hapuskan oleh puasa, sholat, sodaqoh, amar ma’ruf nahi mungkar” (HR Bukahri Muslim)

Apa sesungguhnya sukses yang layak kita perjuangkan itu?

Iya, iya adalah sukses dunia dan ahirat. Betapa bahagianya kita sebagai orangtua jika punya anak yang rajin belajar matematika juga rajin belajar agama. Betapa bahagia kita punya anak yang rajin ikut les dan privat tapi juga rajin mengaji dan sholat.

Sukses itu ada di dunia ini dan ahirat kelak. Yuk kita perjuangkan sukses dunia dan ahirat hingga ajal menjemput kita. Sebagai orangtua jangan pernah rela jika kita punya anak yang hanya rajin belajar sekolah tapi malas belajar ngaji dan sholat. Kita harus menjelaskan kepada anak bahwa sukses dunia ahirat itu bisa kita raih bersama sama, bukan hanya salah satunya.

Semoga Allah memudahkan kita mendidik anak-anak hingga mereka bisa mengenal dan mencintai Allah, rosulNya dan agamaNya.

 

Oleh: Abidzar

Penulis buku “Menjadi Remaja Emas”

 

 

 

 

 

 

asuransi syariah, life insurance, car insurance, student insurance